Contoh Materi Khutbah Untuk Idul Adha : Pengorbanan Besar

Khutbah idul adha dilakukan setelah sholat idul adha, biasanya penyampaian ceramah ini dilakukan oleh Imam yang memimpin sholat.

Untuk itu disini Saya akan membagikan materi terkait dengan khutbah idul adha, yang mudah-mudahan bisa menjadi referensi bagi yang membacanya terutama penulis.

Sebelum memasuki puncak idul adha pada tanggal 10 dzulhijjah, biasanya umat muslim mengerjakan ibadah sunah salah satunya berpuasa 9 hari pada idul adha.

Selain itu banyak sunah-sunah lain yang bisa kita kerjakan ketika memasuki bulan Dzulhijjah.

Sunah-Sunah Pada Bulan Dzulhijjah (Idul Adha)

sunah sunah di bulan dzulhijjah

Sebelum memberikan contoh tentang khutbah Idul Adha. Alangkah baiknya anda mengetahui sunah-sunah yang harus di kerjakan atau dihindari pada bulan dzulhijjah.

Bulan dzulhijjah termasuk istimewa karena di dalamnya terdapat Hari Raya Idul Adha yang hanya terlaksana 1 tahun 1 kali.

Di bawah ini beberapa sunnah idul adha yang bisa anda kerjakan ketika memasuki bulan dzulhijjah.

1. Takbiran Pada Idul Adha

Pada bulan dzulhijjah di sunnah kan untuk melakukan takbiran pada tanggal 9 dzulhijjah bertepatan dengan puasa arafah dan dimulai setelah sholat subuh.

Melakukan Takbir pada idul adha berlangsung selama 4 hari hingga Ashar pada tanggal 13 dzulhijjah.

Untuk takbir muthlak di sunnah kan di kerjakan sejak tanggal 1 dzulhijjah.

Takbir pada idul adha bisa dilakukan oleh siapa saja yang ingin melakukannya baik perempuan atau laki-laki, hingga orang dewasa atau pun anak-anak sangat di sunnah kan melakukan takbir.

2. Membersihkan Badan Sebelum Berangkat Sholat Idul Adha (Mandi)

Membersihkan badan atau mandi sebelum pergi sholat idul adha sangat di sunnah kan untuk di kerjakan.

Karena untuk mengerjakan sholat badan kita harus bersih dari kotoran.

Mandi Idul adha dikerjakan seperti mandi besar, hanya saja niatnya berbeda. Yaitu niat mandi sunnah idul adha.

3. Menggunakan Pakaian Terbaik Pada Idul Adha

Menggunakan pakaian terbaik sangat di sunnah kan untuk melaksanakan shalat idul adha.

Yaitu pakaian yang paling bagus dan sangat cocok untuk di pakai ketika sholat.

Bahkan 10 hari pertama kita di anjurkan untuk menggunakan pakaian terbaik yang dimiliki bukan hanya  pada sholat idul adha saja.

Sehingga sejak jauh-jauh hari kita bisa menyiapkan nya untuk digunakan pada bulan dzulhijjah nanti.

Bahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya”

(HR. Hakim)

4. Menggunakan Parfum 

Menggunakan minyak wangi atau parfum ketika sholat Ied sangat di sunnah kan selain menggunakan pakaian terbaik yang dimiliki.

Seperti yang di jelaskan pada hadist berikut :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya dan memakai minyak wangi”

(HR. Hakim)

5. Makan Setelah Selesai Sholat Idul Adha

Setelah selesai mengerjakan sholat Ied pada idul adha di sunah kan untuk makan terlebih dahulu dan dilarang untuk makan sebelum berangkat sholat id.

Berbeda ketika pelaksanaan Sholat idul fitri yang di sunah kan untuk makan sebelum berangkat solat.

6. Berangkat Shalat Idul Adha Lebih Awal

Berangkat sholat Idul Adha di sunnah kan untuk berangkat se awal mungkin.

Lebih bagus setelah shalat subuh atau selang beberapa waktu setelah itu.

7. Pergi dan Pulang Shalat Idul Adha Menggunakan Jalan yang Berbeda 

Menggunakan jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang shalat idul adha sangat di sunah kan.

Seperti yang tertera pada Hadist ini :

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Id, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.“

(HR. Al Bukhari)

8. Berjalan Kaki Menuju Tempat Pelaksanaan Sholat Idul Adha

Seperti yang pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pergi ke tempat pelaksanaan sholat ied dengan berjalan kaki.

Oleh karena itu sangat di sarankan bagi kita yang bisa melaksanakannya untuk berjalan kaki ke tempat sholat.

Seperti pada hadist di bawah :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.“

(HR. Ibnu Majah)

9. Mengajak Keluarga Untuk Berangkat Shalat Idul Adha

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan anak-anak dan wanita untuk mengikuti shalat id.

Bahkan wanita yang sedang haid pun di anjurkan untuk datang mendengarkan ceramah akan tetapi tetap menjauh dari tempat shalat.

10. Menyembelih Hewan Qurban

Menyembelih hewan Qurban di sunnah kan ketika selesai melaksanakan sholat idul adha.

Dilakukan pada tanggal 10 dzulhijjah sampai dengan tanggal 13 atau hari tasyrik.

Contoh Materi Khutbah Untuk Idul Adha : Pengorbanan Besar

Setelah mengetahui beberapa sunnah yang bisa di kerjakan pada bulan dzulhijjah.

Di bawah ini adalah contoh teks khutbah untuk idul adha yang bisa anda jadikan referensi sebagai tugas dan lain lain.

Khutbah Idul Adha : Pengorbanan Yang Besar

Sekali lagi kita semua telah diberkati oleh Allah (SWT) untuk menyaksikan dan merayakan hari besar Idul Adha ini.

Idul Adha pada dasarnya berarti, ‘festival pengorbanan dalam Islam’.

Pada hari ini, umat Islam diingatkan tentang cobaan besar, yang dilakukan Nabi Ibrahim (AS) atau Nabi Ibrahim (SAW), untuk mengorbankan putranya yang masih muda, Nabi Ismail (AS) atau Nabi Ismail (SAW).

Nabi Ibrahim AS mematuhi perintah Allah SWT dan berhasil sepenuhnya.

Nabi Ibrahim AS dianggap sebagai juara tauhid. Nabi Ibrahim AS adalah salah satu nabi Allah SWT yang paling disayanginya.

Al-Qur’an berbicara secara luas tentang Nabi Ibrahim AS.

Infact nama Ibrahim telah muncul dalam Alquran 69 kali. Dia telah diberi banyak nama dan gelar yang indah seperti:

  • Khaleelullah (Sahabat Allah)
  • Siddiq (Yang Benar)
  • Nabi (Nabi)
  • Imam (Pemimpin)
  • Muslim (Seseorang yang tunduk pada Satu Tuhan)
  • Haneef (Monoteis yang tidak menyimpang)
  • Ummah (Bangsa)

Pengorbanan Besar :

Kisah tentang cobaan besar Nabi Ibrahim AS sangat menarik dan ada banyak pelajaran yang bisa diambil darinya oleh orang-orang yang percaya pada Nabi Ibrahim AS dan mengaku mengikuti syahadat nya. Untuk meringkas apa yang telah terjadi:

Nabi Ibrahim AS berdoa kepada Allah SWT untuk memberinya seorang putra. Allah (SWT) memenuhi keinginannya dan memberinya Nabi Ismail (AS) pada usia yang sangat tua.

“Ya Tuhan! Berilah aku anak laki-laki yang saleh. Jadi, kami memberinya kabar gembira tentang seorang putra yang sabar.” (37: 100-101)

Ketika anak itu mencapai usia 13 tahun, Allah (SWT) memerintahkan Nabi Ibrahim (AS) dalam mimpinya untuk mengorbankannya demi-Nya.

“Ketika dia cukup dewasa untuk membantu dalam upayanya, dia berkata: ‘Anakku! Aku melihat dalam mimpiku bahwa aku mengorbankan kamu. Lihat apa yang kamu pikirkan?'” (37: 102)

Karena itu adalah perintah dari Allah (SWT), putra yang saleh mendorong ayah lamanya untuk melepaskan tugasnya.

“Dia berkata: ‘Bapa! Lakukan apa pun yang diperintahkan kepadamu. Jika Allah menghendaki, kamu akan menemukan aku bersabar.” (37: 102)

Pengorbanan Besar Nabi Ismail AS :

Nabi Ibrahim AS berangkat dengan putranya, Nabi Ismail (AS) ke tempat pengorbanan. Itu tentu bukan tugas yang mudah!

Dalam perjalanan, Setan atau Setan muncul dalam bentuk seorang lelaki tua yang menasihati. Dia berusaha menghentikan Nabi Ibrahim AS untuk mempersembahkan kurban, tetapi karena iman yang kuat kepada Allah SWT, tekad Nabi Ibrahim AS untuk mematuhi perintah Penciptanya tidak dapat digoyahkan.

Setan kemudian mencoba peruntungannya dengan Nabi Ismail (AS) muda dan membujuknya untuk melarikan diri dari nasib buruknya. Sebagai hasil dari permintaan ayahnya, Nabi Ismail (AS) adalah putra yang saleh dan karena itu dia juga tidak dapat dipengaruhi.

Baik, ayah dan putranya mengusir Setan. Mereka kemudian tiba di tempat pengorbanan di Mina.

Nabi Ibrahim AS mengikat tangan dan kaki putranya agar tidak terganggu oleh rasa sakit dan kegelisahan nya. Dia menutup matanya sendiri dan membawa pisau memberlakukan perintah Allah (SWT).

Ketika Nabi Ibrahim AS melepaskan lipatannya, ia melihat Nabi Ismail (AS) di sisinya dan di tempatnya; sebuah Ram terbaring di hadapan mereka. Nabi Ibrahim (AS) bergetar agar Allah (SWT) menolak pengorbanan nya. Tiba-tiba dia mendengar suara yang menenangkan:

“Kami memanggilnya: Wahai Ibrahim! Kamu benar-benar telah memenuhi visinya! Demikianlah Kami benar-benar memberi hadiah kepada yang saleh. Sesungguhnya ini adalah cobaan yang nyata. Kemudian Kami menebusnya dengan pengorbanan yang besar, dan Kami meninggalkan (berkat ini) untuknya di antara generasi (yang akan datang) di masa kemudian: Damai bagi Ibrahim. ” (37: 104-109)

Pelajaran Dari Pengorbanan Yang Besar :

Salah satu hal yang dilakukan Hujjaj (para peziarah ke rumah Allah untuk haji) pada tanggal 10 Dzul Hijjah, dan begitu juga banyak Muslim di seluruh dunia adalah untuk:

Menyembelih seekor domba atau seekor kambing atau unta untuk mengenang pengorbanan besar Nabi Ibrahim AS ini.

Tindakan ini bukan sekadar ritual tetapi memiliki makna dan makna. Allah (SWT) belum memerintahkan kita untuk mengorbankan hewan karena Dia (SWT) haus darah atau haus daging.

Dalam Surat Haji, ayat 36 dan 37, Dia (SWT) telah menjelaskan:

“Demikianlah kami telah membuang mereka (binatang) untuk keuntunganmu sehingga kamu dapat berterima kasih.” (22:36)

Dan Allah (SWT) menambahkan:

“Bukan daging mereka atau darah mereka yang mencapai Allah. Justru kesalehan kamu yang mencapai-Nya. Dengan demikian Dia telah membuang mereka untuk kebaikanmu sehingga kamu dapat memperbesar Allah karena menuntun kaummu. Dan memberikan kabar baik kepada yang saleh.” (22:37)

Jadi Apa Pentingnya Menawarkan Pengorbanan Hewan Pada Hari Idul Adha ini?

Jawaban atas pertanyaan ini sederhana.

Allah (SWT) ingin melatih kita untuk mengikuti jalan Nabi Ibrahim (AS) yang rela menawarkan kepada Allah (SWT) miliknya yang paling berharga dalam bentuk putranya Nabi Ismail (AS).

Allah (SWT) tidak ingin Nabi Ismail (AS) dikorbankan, tetapi Allah (SWT) menginginkan Nabi Ibrahim (AS) menunjukkan kesediaan nya untuk mengorbankan Nabi Ismail (AS), yang ia (AS) lakukan dengan berani.

Ali Shari’ati dalam bukunya, ‘Filsafat Haji’ menulis :

“Ini adalah kisah tentang kesempurnaan manusia dan kebebasannya dari keegoisan dan hasrat kebinatangan. Ini adalah kenaikan manusia ke semangat dan cinta yang lebih tinggi, pada keinginan kuat yang membebaskannya dari hal apa pun yang dapat menghalangi tanggung jawabnya sebagai manusia yang sadar.”

Pengorbanan Yang Anda Miliki 

Dengan kata lain, Allah (SWT) memberi tahu kita:

Pada hari Idul Adha ini, Anda harus memilih Ismail Anda dan membawanya ke Mina! Siapa Ismail Anda? Apa pun yang menyebabkan halangan bagi Anda untuk mencapai Tuhan Anda dan memenuhi tugas Anda terhadap-Nya. Ismail Anda bisa:

  • Kekayaan
  • Pekerjaan Anda
  • Peringkat
  • Kekuatan
  • Nafsu
  • Keserakahan
  • Pasangan
  • Anak-anak Anda

Itu bisa berupa apa saja dan memastikan bahwa itu sama dengan Anda seperti halnya Nabi Ismail (AS) kepada Nabi Ibrahim AS.

Ketika Anda mengorbankan seekor hewan pada hari ini, ingatlah bahwa Anda benar, mengorbankan hal tersayang dalam hidup Anda dan memberi tahu Allah (SWT):

“Ya Tuhanku! Sejak saat ini, hal ini, yang telah paling ku sayangi bagiku dalam hidup, tidak akan menghalangi aku untuk menjangkau engkau dan mendapatkan kesenangan kamu.”

Imam Zainul Abideen (AS), berbicara tentang pentingnya setiap ritual yang dilakukan selama haji, bertanya kepada Shibli :

“Ketika Anda menyembelih hewan kurban Anda (selama haji), apakah Anda berniat untuk memotong tenggorokan keserakahan (yang tersembunyi di dalam kamu) dengan berpegang pada realitas Takwa dan untuk mengikuti tradisi teladan Nabi Ibrahim AS yang bermaksud untuk menyembelih putranya yang tersayang Nabi Ismail (untuk melepaskan perintah Allah)? ”

Shibli berkata, “Tidak!”

“Kalau begitu,” kata Imam Zainul Abideen (AS), “Kamu belum mengorbankan hewanmu.”

Demikian pula, ketika memberikan instruksi kepada Hujjaj (para peziarah ke rumah Allah untuk haji) Imam Jafar Sadiq (AS) mengatakan kepada mereka: “Potong tenggorokan keinginan duniawi dan keserakahan dengan mempersembahkan kurban hewan.”

Kami berdoa kepada Allah (SWT) pada hari besar Idul Adha ini untuk memberi kami taufiq untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS dan mengampuni semua dosa masa lalu dan masa depan kami.

Kesimpulan

Di atas adalah contoh teks khutbah idul adha tentang pengorbanan besar.

Dari khutbah bisa di simpul kan bahwa kita harus melakukan pengorbanan besar supaya bisa melakukan ibadah yang besar.

Salah satunya dengan mengorbankan harta untuk melakukan kurban

atau meninggalkan pekerjaan sebentar untuk berangkat haji

Yang pasti untuk melakukan ibadah di bulan dzulhijjah kita harus melakukan suatu pengorbanan yang sangat besar.

Dan jangan lupa lakukan sunah-sunah yang terdapat pada bulan dzulhijjah.

Leave a Comment

%d bloggers like this: