Niat Sholat Idul Adha Beserta Tata Cara Pelaksanaan dan Hukum Takbiran – (Hadist)

By

Hari Idul Adha setiap tahun nya pasti terjadi, dalam menyambut hari raya idul adha ada beberapa kegiatan yang sering di lakukan oleh umat muslim seperti puasa, sedekah, berkurban hingga sholat idul adha.

Untuk itu di artikel kali ini Saya akan membagikan niat sholat pada, tata cara pelaksanaan sholat pada idul adha dan hukum takbiran beserta hadist hadist yang menjelaskan nya.

Sebelum itu anda harus mengetahui apa itu idul adha

Pengertian Idul Adha

Idul Adha hari raya islam dimana diperingati sebagai peristiwa kurban, dimana ketika itu nabi ibrahim yang mengorbankan anaknya untuk di sembelih dan digantikan oleh domba.

Idul Adha juga menjadi puncak nya ibadah haji yang sedang dilakukan oleh umat muslim di seluruh dunia.

Pada hari raya Idul Adha, semua umat muslim melakukan ibadah shalat ied secara bersama-sama pada tempat. Setelah sholat idul adha selesai biasanya dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban, sebagai hari memperingati perintah allah kepada nabi ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Idul Adha jatuh pada tangga 10 bulan Dzulhijjah kalender islam, bertepatan dengan hari idul adha juga diharamkan bagi seorang muslim untuk berpuasa.

Hukum Sholat Idul Adha Beserta Niat dan Tata Caranya

Hukum Sholat idul Adha menurut beberapa ulama hukumnya berbeda-beda, sehingga disini Saya akan mencantumkan beberapa pendapat ulama besar beserta dalilnya.

Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa hukum sholat idul adha adalah fardhu kifayah.

Namun ada juga sebagian ulama yang mengatakan bahwa hukum sholat idul adha adalah fardu’ain sama seperti sholat jumat. Sehingga tidak selayaknya bagi seorang muslim meninggalkannya.

Seperti pendapat populer pada mazhab hambali yang menyatakan bahwa hukum solat pada hari raya idul adha adalah fardhu kifayah. Sehingga ketika pada suatu tempat masyarakat muslim sudah ada yang mengerjakan solat idul adha, maka kewajiban bagi orang lain gugur untuk melaksanakannya.

Namun pada pendapat mazhab Hanafi dan sebagian besar ulama mazhab hambali hukum melaksanakan sholat pada hari raya idul adha adalah fardhu ‘ain. Dimana hukumnya wajib bagi setiap muslim mukallaf, oleh sebab itu bagi muslim yang tidak melaksanakannya akan mendapatkan dosa.

Pendapat di atas berdasarkan perintah Rasulullah sebagaimana pada hadist dari Ummu Athiyyah Radhiyallahu ‘anha yang memerintahkan seluruh muslim madinah untuk mengikuti sholat idul adha, termasuk budak perempuan. Bahkan wanita yang sedang haid pun diperintahkan untuk mendengarkan khutbah namun tetap harus menjauhi tempat sholat.

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَ فِيْ عِيْدَيْنِ العَوَاطِقَ وَالْحُيَّضَ لِيَشْهَدْناَ الخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَتَعْتَزِلَ الْحُيَّضُ الْمُصَلِّى
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami keluar menghadiri shalat ‘id bersama budak-budak perempuan dan perempuan-perempuan yang sedang haid untuk menyaksikan kebaikan-kebaikan dan mendengarkan khuthbah. Namun beliau menyuruh perempuan yang sedang haid menjauhi tempat shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sunah dan Adab yang Sebaiknya di Lakukan Pada Sholat Ied

Termasuk sunnah yang seharusnya dilakukan seorang muslim pada hari Id adalah sebagai berikut;

1. Mandi Sebelum Berangkat Untuk Shalat Ied

Terdapat riwayat shahih dalam Kitab Al-Muwaththa dan lainnya bahwa Abdullah bin Umar mandi pada hari Ied sebelum berangkat ke tempat shalat. (Al-Muwaththa, no. 428). An-Nawawi rahimahullah menyebutkan adanya kesepakatan ulama tentang di sunnah kan nya mandi untuk shalat Ied.

Alasan yang menjadi sebab di sunnah kan nya mandi pada hari Jumat dan atau kesempatan lainnya saat kaum muslimin berkumpul secara umum, juga terdapat pada shalat Ied, bahkan boleh jadi pada shalat Id alasan itu lebih kuat.

2. Larangan Makan Sebelum Berangkat Pada Sholat Idul Adha.

Adapun pada Idul Adha, maka yang disunnahkan adalah tidak makan sebelum kembali dari shalat Ied.

Hendaknya dia makan dari hewan kurban nya jika dia menyembelih hewan kurban.

Jika dia tidak memiliki hewan kurban, maka tidak apa-apa makan setelah sholat idul adha.

3. Takbir Pada Idul Adha

Takbir pada hari idul adha termasuk sunnah yang agung pada hari Ied, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون (سورة البقرة: 185)

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dari Walid bin Muslim dia berkata, ‘Aku bertanya kepada Al-Auzai dan Malik bin Anas tentang mengeraskan takbir pada dua Hari Raya.’ Mereka berdua menjawab, ‘Ya, dahulu Ibnu Umar mengeraskan takbir pada hari Idul Fitri hingga imam datang.”

Terdapat riwayat shahih dari Abu Abdurrahman As-Silmi, dia berkata, ‘Mereka para hari Idul Fitri lebih keras dibanding Idul Adha) Waki’ berkata, ‘Yang dimaksud (keras) adalah bertakbir.’ (Irwa’ul Ghalil 3/122)

Sedangkan Daruquthni meriwayatkan bahwa Ibnu Umar apabila berangkat untuk shaat Idul Fitri dan Idul Adha, bersungguh-sungguh untuk takbir hingga tiba ke tempat shalat, kemudian dia terus takbir hingga imam datang.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Az-Zuhri, dia berkata, ‘Orang-orang melakukan takbir pada hari Ied hingga mereka keluar dari rumah-rumah mereka hingga ketika mendatangi tempat shalat dan hingga imam datang. Apabila imam telah datang, mereka semua diam, jika imam takbir, mereka pun ber takbir. (Lihat Irwa’ul Ghalil, 2/121)

Ibnu Syihab Az-Zuhri rahimahullah berkata, ‘Dahulu orang-orang ber takbir sejak mereka keluar dari rumah-rumah mereka hingga datangnya imam (ke tempat shalat untuk memulai shalat).

Adapun dalam Idul Adha, maka takbir dimulai sejak hari pertama Dzulhijjah hingga matahari terbenam pada akhir hari tasyrik.

Tata Cara Takbir Pada Idul Adha

Terdapat dalam mushannaf Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, bahwa dia bertakbir pada hari-hari Tasyrik (dengan redaksi berikut);

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.

Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan lagi dengan redaksi yang sama, hanya saja takbirnya menjadi tiga kali.

Al-Mahamili meriwayatkan dengan sanad yang shahih juga dari Ibnu Mas’ud (redaksi berikut);

الله أكبر كبيراً الله أكبر كبيراً الله أكبر وأجلّ ، الله أكبر ولله الحمد

Allah Maha Besar, Allahu Maha Besar, Allah Maha Besar dan Agung, Allah Maha Besar, bagiNya segala puji. (Lihat Irwa’ul Ghalil, 3/126)

4. Berhias Pada Dua Hari Ied

Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata, ‘Umar radhiallahu anhu membeli sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar, lalu dia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhias lah dengannya untuk Hari Raya dan menyambut tamu.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian (di hari kiamat)” (HR. Bukhari, no. 948)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyetujui tindakan Umar untuk berhias pada hari Ied, akan tetapi yang dia ingkari adalah membeli baju tersebut, karena terbuat dari sutera.

Dari Jabir radhialahu anhu, dia berkata, Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memiliki gamis yang biasa beliau pakai untuk shalat dua Hari Raya dan hari Jumat. (Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 1765)

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Umar memakai pakaian yang paling bagus pada Hari Ied.

Maka bagi laki-laki, hendaknya memakai pakaian yang paling bagus ketika berangkat untuk shalat Id.

Adapun wanita, hendaknya dia menjauhi perhiasan apabila dia keluar, karena dilarang baginya menampakkan perhiasan di hadapan laki-laki bukan mahram, demikian pula diharamkan bagi wanita yang hendak keluar untuk mengenakan wewangian atau mengundang fitnah bagi laki-laki, karena dia keluar semata-mata untuk beribadah dan ketaatan.

5. Pergi ke Tempat Shalat Melalui Suatu Jalan dan Kembali Melalui Jalan yang Berbeda

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada Hari Id menempuh jalan yang berbeda. (HR. Bukhari, no. 986)

Ada yang mengatakan bahwa hikmah dari perbuatan tersebut adalah agar kedua jalan itu menjadi saksi di hadapan Allah pada hari kiamat, sebab bumi akan berbicara pada hari kiamat terhadap kebaikan atau keburukan yang dilakukan di atasnya.

Ada pula yang berpendapat, untuk menampakkan syiar Islam pada kedua jalan tersebut. atau untuk menampakkan dzikir kepada Allah, atau untuk menimbulkan rasa gentar terhadap kaum munafik atau orang Yahudi dengan banyaknya orang bersamanya, atau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, apakah untuk meminta fatwa, mengajarkan atau memenuhi segala kebutuhan, atau untuk mengunjungi kerabat dan silaturahmi.

Niat Sholat Pada Idul Adha

Belum di temukan secara khusus dalam hadist yang menjelaskan tentang niat sholat idul adha yang di lafal kan.

Karena Rasulullah dan para sahabat biasa mengerjakan amal dengan niat tanpa di lafal kan.

Semua ulama seperti Syaikh Wahbah dalam Fiqih Islam Wa Aditatuhu telah setuju bahwa tempat niat di dalam hati.

lafal kan niat bukanlah sebuah syarat, namun lebih di sunnah kan jumhur oleh para ulama selain mazhab Maliki dengan maksud membantu hati dalam menghadirkan niat.

Sedangkan menurut mazhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafal kan niat karena tidak bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Akan tetapi sebagian ulama menyarankan Muslim untuk membaca Takbir (“Allaahu akbar”), Tasbih (“Subhaan Allaah”), Tahlil (“Laa ilaaha ill-Allaah”) dan Tahmid (“al-hamdu Lillaah”) pada malam sebelum Idul Fitri dan pada pagi hari Idul Fitri, sampai akhir khutbah pada hari Idul Fitri dan sampai akhir zaman Tashreeq pada kesempatan Idul Adha, sebagaimana juga ditentukan selama sepuluh hari pertama Dhul ‘Hijjah, karena Allah berfirman :

“(Dia ingin agar kamu) harus menyelesaikan jumlah yang sama (hari), dan bahwa kamu harus memperbesar Allah [yaitu mengatakan Takbir (Allaahu Akbar: Allah adalah yang Maha Besar)] karena telah membimbing kamu”

[al-Baqarah 2: 185]

Lafal Niat Sholat Idul Adha

Dalam mazhab Syafi’i, lafal niat sholat idul adha adalah sebagai berikut:

اُصَلِّى سُنُّةً عِيْدِ الْاَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى

(usholli sunnatan ‘iidil adhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati ma’muuman lillaahi ta’aalaa)

Artinya: Saya niat sholat sunnah idul adha dua raka’at menghadap kiblat sebagai ma’mum karena Allah Ta’ala

Sedangkan jika jadi imam, lafal niat sholat idul adha sebagai berikut:

اُصَلِّى سُنُّةً عِيْدِ الْاَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا للهِ تَعَالَى

(usholli sunnatan ‘iidil adhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati imaman lillaahi ta’aalaa)

Artinya: Saya niat sholat sunnah idul adha dua raka’at menghadap kiblat sebagai

Tata Cara Sholat Idul Adha

Untuk pelaksanaan sholat idul adha dilakukan secara jamaah di suatu lapangan atau masjid yang kapasitas nya besar.

Ketika selesai melaksanakan sholat idul adha, khatib akan menyampaikan khutbah idul adha.

di bawah ini tata cara sholat idul adha :

1. Tidak Ada sholat Qobliyah dan Ba’diyah Idul Adha

Untuk pelaksanaan sholat idul adha tidak perlu melakukan sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah. Seperti yang sudah di jelaskan pada hadist Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fitri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Tidak Ada Adzan dan Iqomah Pada Sholat Idul Adha

Ketika pelaksanaan sholat idul adha tidak perlu melakukan adzan dan juga iqomah. Seperti yang tertera pada hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

Aku beberapa kali melaksanakan shalat ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah

3. Tata Cara Pelaksanan Sholat Idul Adha

1. Niat. Hal pertama sebelum melakukan sholat adalah niat, tak terlepas dari sholat idul Adha. Untuk bacaannya sudah di jelaskan pada artikel di atas.

2. Takbiratul ihram
3. Takbir lagi (takbir zawa-id) sebanyak tujuh kali

Setelah membaca setiap takbir di anjurkan untuk membaca dzikir dengan memuji Allah. Bacaannya seperti yang di bawah :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

(Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar)

Artinya: Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada ilah kecuali Allah, Allah Maha Besar

4. Di lanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah yang di lanjutkan dengan bacaan surat lain, sama seperti sholat wajib.

5. Selanjutnya Ruku’ dengan khusyu atau tuma’ninah

6. I’tidal dengan khusyu

7. Sujud

8. Kemudian Duduk di antara dua sujud

9. Sujud kedua

10. Bangkit dari sujud dan bertakbir

11. Takbir zawa-id sebanyak lima kali, antara takbir lebih baik jika membaca bacaan ini

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

(Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar)

12. Kemudian Membaca lagi surat Al Fatihah dilanjutkan surat yang lainnya

13. Ruku’

14. I’tidal

15. Sujud

16. Duduk di antara dua sujud

17. Sujud kedua

18. Duduk tasyahud dengan tuma’ninah

19. Salam

Oleh sebab itu Sholat sunnah Idul Adha di lakukan sebanyak 2 rakaat.

Kesimpulan

Sholat pada hari Raya Idul Adha menurut beberapa ulama hukumnya wajib dilaksanakan, bahkan untuk wanita sekalipun.

Terkecuali untuk wanita yang sedang haid hanya di anjurkan untuk mendengarkan ceramahnya tanpa mendekati tempat sholat.

Idealnya sholat ied dilakukan di lapangan atau masjid yang luas.

Sholat Idul adha dilakukan sebanyak 2 rakaat, dengan takbir sebanyak 7 kali.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: